“Dia
pergi meninggalkan kekasihnya dengan cucuran air mata”
***
Dialah seorang laki-laki
yang sedang tergila-gila. Hatinya telah dirundung cinta tiada tara. Kisah
asmaranya itu pun menyebar ke mana-mana. Masyarakat seantero Makkah tiada henti
menggunjing namanya dan nama kekasihnya.
![]() |
Cinta suci yang tak ingin menodai/fr.freepik |
Pemuda itu bernama Qas.
Seorang laki-laki biasa yang masih bujang. Dia senang beribadah dan sering i’tikaf
di masjid. Kecintaannya dalam beribadah diakui oleh banyak orang. Sampai-sampai
orang Makkah menjulukinya “Orang yang paling baik ibadahnya”.
Namun, pada suatu hari,
Qas tidak sengaja melihat seorang wanita cantik. Dia memandanginya dari jauh. Ada
sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Lirih, tapi sudah cukup untuk membuatnya
berhenti melangkah.
Sayup-sayup Qas mendengar
suara wanita itu. Merdua dan syahdu. Telinga Qas terus menikmati alunan lagu
itu. Getaran-getaran lirih mulai berganti menjadi guncangan kecil.
Tanpa Qas sadari, ada
seseorang yang memerhatikan Qas. Ternyata tuan wanita itu. Ya, wanita itu
seorang budak. Namanya Sallamah. Qas tak peduli dengan statusnya. Qas terus
menikmati alunan lagunya dengan hati berkaca-kaca.
“Apakah kamu ingin masuk
ke dalam agar bisa leluasa mendengar suaranya?” Tuan Sallamah menawarkan.
“Tidak. Aku di sini saja,”
jawab Qas.
Tuan Sallamah terus
membujuknya agar masuk. Qas akhirnya luluh. Dia berkenan masuk, tapi dengan
syarat; dirinya tidak melihat Sallamah dan Sallamah tidak melihat dirinya.
Qas pun memasuk ruangan
itu. Ada sekat antara dirinya dan Sallamah. Tetapi, suara Sallamah terdengar
sangat jelas. Lebih jelas dari sebelumnya. Hatinya semakin tertarik pada
Sallamah. Qas merasa tentram mendengar suaranya.
“Apakah aku akan
memanggil Sallamah agar mendatangimu?” Tuan Sallamah menawarkan lagi.
“Tidak usah. Mendengar suaranya
sudah cukup bagiku,” jawab Qas.
Tuan Sallamah menawarkan
lagi dan lagi. Akhirnya Qas menyetujui. Sallamah dipanggilnya. Sallamah memenuhi
panggilan tuannya. Kini, Qas dan Sallamah saling bertapat muka. Lalu saling
bertatap mata.
Sallamah menyanyikan lagi
lagu-lagunya. Qas mendengarkannya. Lagu itu benar-benar membuat hati Qas
bergetar kencang. Tidak! bukan karena lagunya, tapi karena wanita yang
membawakannya. Qas jatuh hati pada wanita itu.
Sallamah terus saja
bernyanyi. Pandangan yang menggoda ia hantamkan pada Qas. Tapi di lubuk hati yang
paling dalam, Sallamah juga menyukai pemuda itu. Dua insan itu diterpa
gelombang asmara tidak berkesudahan. Semakin ditekan semakin meneggelamkan. Semakin
dilepas, semakin menyesakkan nafas.
Setiap hari, Qas dan
Sallamah selalu berjumpa. Sallamah bernyanyi, Qas mendengarkannya. Kisah cinta
mereka mulai tersebar dari mulut ke mulut. Masyarakat Makkah pun mulai
menggunjingnya.
Suatu hari, Sallamah
tiada mampu lagi menahan rasa tanpa kata. Sallamah tak bisa menjalani kisah
tanpa asa. Sallamah ingin memastikan hati Qas. Benarkah cintanya tidak bertepuk
sebelah.
“Qas….”sapa Sallamah.
“Iya,” jawab Qas.
“Demi Allah, aku
mencintaimu,” Sallamah mengucapkannya dengan jelas dan tegas.
“Demi Allah, aku juga mencintaimu,”
Qas menjawab Sallamah.
“Aku ingin meletakkan
bibirku di atas bibirmu,” kata Sallamah.
“Aku juga,” jawab Qas.
“Aku ingin dadaku
mencumbui dadamu, perutku memeluk perutmu,” kata Sallamah lagi.
“Aku juga,” Qas
menginginkan hal yang sama.
“Kenapa tidak kau lakukan
wahai Qas?” Sallamah memulai mempertanyakan keseriusan Qas. Karena Qas masih
saja diam.
“Sungguh, hanya kita
berdua di tempat ini,” lanjut Sallamah.
“Aku pernah mendengar,
kelak seorang kekasih akan menjadi musuh bagi kekasihnya kecuali mereka yang
bertakwa. Aku tak ingin cinta ini malah membuat kita saling bermusuhan di hari
kiamat,” Qas memaparkan alasanya.
“Mas… Bukankah Tuhan itu
Maha Menerima taubat orang-orang yang bertaubat,” kata Sallamah lagi. Ia ingin
meyakinkan, jika pun harus berdosa karena cinta, masih ada jalan taubat untuk
menghapusnya.
“Betul dek, tapi
bagaimana kalau kita tidak sempat betaubat lalu meninggal dunia?”
Lalu Qas berdiri dari
tempatnya. Dia melangkah pergi sambil meneteskan air mata. Maaf kekasih…
Dikisahkan, Qas kembali beribadah
kepada Allah dan tak lagi mendatangi Sallamah. Qas ingin cintanya tak menjadi
penghalang kebersamaan di surga.
*Disarikan dari kitab
Dzam al-Hawa dan Tarikh Dimsyiq.
Posting Komentar