
Karena keluar dari pekerjaan itu, dia nganggur. Untuk sementara dia tinggal di kosan tetangganya. Sambil lalu, dia mencari informasi peluang kerja. Dia pun menemukannya. Sang juragan menjemputnya. Dia bahagia. Dia bisa bekerja. Dalam hati dia berharap mudah-mudahan nyonya-nya nanti baik. Paling tidak, tidak galak.
Dia pun sampai di tempat tujuan. Disediakan kamar untuknya. Di dalam kamar itu, dia menginap satu malam. Namun tiba-tiba, harapannya sirna. Dia bukan diberi pekerjaan. Tapi ingin dijual. Ingin dijadikan pelacur. Informasi itu dia dengar sendiri saat orang yang membawanya menelfon temannya. Dia menangis. Menangis sejadi-jadinya. Akankah nasibnya berakhir di Surabaya? Akankah dia akan jadi PSK? Oh tuhan….
Keajaiban datang. Dia bertemu dengan salah satu tentangganya. Dia ceritakan semua. Sesekali, dia usap air matanya. Dia menangis. Setiap dia bercerita tentang kejadian itu, dia menangis. “Jangan bilang ke orang Madura!” Pinta perempuan yang masih berumur 25-an itu. Kemudian, tetangga itu membawanya pulang.
***
Kurang lebih begitulah ceritanya. Samar-samar aku mendengarkan cerita itu. Bibi yang cerita. Mataku yang masih dililit kantuk tidak sepenuhnya bisa mengikuti alur cerita. Tapi, hatiku meringis. Ternyata, adegan di film itu benar-benar ada. Diiming-imingi pekerjaan. Ternya pekerjaan memuaskan nafsu setan. Mudah-mudahahn kita semua selamat. Tetangga kita selamat. Famili kita selamat. Orang islam semuanya selamat. Amin.
Posting Komentar